Hari Ke Dua, Sosialisasi Dari Kementrian P3A Bahas Soal BK-TKI Dalam Pandangan Tenaga Kerja

LiputanBMR.com, KOTAMOBAGU – Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Republik Indonesia, menggelar sosialisasi bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Kotamobagu yang dilakukan sejak kemarin hingga hari ini, di Aula Rumah Dinas Wali Kota Kotamobagu, selasa (09/07/2019).

Sosialisasi ke dua hari ini, yang bertemakan “pemberdayaan Bina Keluarga Tenaga Kerja Indonesia (BK-TKI), Dalam Rangka Ketahanan Keluarga Dan Pemenuhan Hak Anak” merupakan perwujudan dari perlindungan hak perempuan Indonesia pada bidang ketenagakerjaan.

Menurut Deputi Kementrian P3A RI, Prof.Dr Vannetia R Danes, MA.Ph, bahwa penghapusan Diskriminasi terhadap wanita yang tertuang pada undang-undang nomor 7 tahun 2004, itu artinya mewajibkan kepada negara agar tidak melakukan praktek diskriminasi terhadap perempuan dibidang ketenagakerjaan.

“Perlindungan pada perempuan sudah diatur dalam undang-undang, termasuk perlindungan fungsi reproduksi pada perempuan, misalnya wanita hamil, melahirkan hingga menyusui, dan itu menyangkut ketenagakerjaan juga, undang-undang mengatur itu ada di nmor 13 tahun 2003 tetntang pemberian perlindungan pada perempuan yang berpartisipasi di dunia kerja, jadi saya harap hentikan diskriminasi terhadap perempuan, ” ujar Vannetia.

Sementara, Wali Kota Kotamobagu, Ir Hj Tatong Bara, mengatakan, berkaitan dengan tema tersebut, “saya melihat perbedaan perempuan dan laki-laki bukan pada jenis kelaminnya tetapi ada pada cita-cinta, kalau kita punya cita-cita jadi Wali Kota maka pasti jadi Wali Kota, jadi kalau bercita-cita harus yang tinggi sebab impian itu sangat strategis,  dan kalau cita-cita hanya sederhana maka sederhana pula capaiannya,” ujar Tatong.

Di Kotamobagu kata Tatong, jumlah laki-laki dan perempuan masih dominan laki-laki daripada jumlah perempuan, tetapi dalam konteks tanggungjawab kalau perempuan ada tugas tambahan dengan anak-anak, artinya masih lebih banyak porsi kerjanya terlebih pegawai negri sipil yang memegang jabatan itu ada  beban kerjanya, ditambah beban kerja  dalam rumah tangga.

“Jadi porsi kerja kalau ia PNS ditambah dengan kerja dalam rumah tangga, sesungguhnya kita perempuan yang paling banyak. Kalau dillihat dari perbedaa otak, itu ada pada pembungkus otaknya, perempuan pembungkus otaknya lebih tebal dibandingkan laki-laki, sehingga perempuan kalau kerja sangat lebih fokus dibandingkan laki-laki,” kata Tatong.

Tatong menyimpulkan, jangan heran jika perempuan saat bekerja bisa mengkafer beberapa jenis pekerjaan dalam satu waktu, ujarnya. (Febri)

Komentar Facebook

Komentar

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib diisi *

*