Ketahanan Pangan Ditengah Pandemi Covid-19, Ala Emak-Emak Desa Tabilaa

LIPUTANBMR.COM, BOLSEL– Pandemi Covid-19 dinilai cukup memukul perekonomian keluarga di Indonesia. Sejumlah ibu-ibu di dusun empat yang tergabung di Kelompok Wanita Tani (KWT) Bunga Tanjung Desa Tabilaa, Kecamatan Bolaang Uki Kabupaten Bolaang Monggondow Selatan (Bolsel) punya satu cara untuk menghemat pengeluaran konsumsi rumah tangga, akan tapi tetap sehat bagi tubuh.

Beranggotakan kurang lebih 20 orang, ibu-ibu KWT Bunga Tanjung Desa Tabilaa memanfaatkan lahan terbatas di permukiman (pekarangan depan rumah) mereka untuk bercocok tanam.

Salah satu anggota KWT Bunga Tanjung Desa Tabilaa, Jeyin mengatakan, menanam sayuran di lahan terbatas menjadi salah satu langkah menjaga ketahanan pangan di tingkat keluarga, sekaligus berfungsi sebagai penghijauan lingkungan.

“Ditengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini perekonomian keluarga menurun, kita bisa memanfaatkan hasil panen sayuran dan rempah-rempah sendiri untuk menghemat pengeluaran keluarga,” ucapnya kepada awak media saat di konfirmasi, Senin (10/8/2020).

Ditambahkannya, meski tinggal di lingkungan yang padat penduduk, namun tak lantas menyerah dengan sempitnya lahan. Mereka kemudian menghijaukan halaman rumah dengan beraneka ragam sayur-sayuran dan rempah-rempah.

Teringat pepatah ” Tidak ada rotan, akar pun jadi, ” demikian pula yang dilakukan para ibu ini. Sayuran dan rempah-rempah milik mereka ditanam di dalam poly bag dengan metode vertikultur. Minimal tiap anggota KWT diberikan 75 poly bag dan paranet untuk menanam sayuran dan rempah-rempah di pekarangan rumah mereka.

“Biasanya kami menanam menggunakan sayuran seperti terong, tomat, cabai, bawang merah, bawang putih, batang bawang, kangkung, bayam, dan lain-lain. ”ungkapnya

Terpisah, Penyuluh Pertanian Desa Tabilaa Imin Latif mengatakan, dengan memanfaatkan lahan sempit (pekarangan rumah) untuk menanam tanaman sayuran dan rempah-rempah sendiri sangat membantu keuangan rumah tangga di saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Ibu-ibu bisa memasak hasil panen untuk dikonsumsi keluarga.

“Selain lahan pekarangan rumah untuk bercocok tanam, ibu-ibu KWT Bunga Tanjung juga memiliki lahan khusus yang di kelola kelompok untuk bercocok tanam yaitu lahan demplot yang memiliki luas kurang lebih seper 4 hektar yang ditanami sayur-sayuran dan rempah-rempah. Hasil dari lahan demplot ini sebagian dikonsumsi pribadi dan sebagian di pasarkan dirumah makan terdekat, dan hasil penjualannya sendiri, diberikan ke kas kelompok KWT Bunga Tanjung dan sebagiannya juga di bagi ke anggota,” ucap Latif.

Ia pun berharap, kegiatan positif seperti yang dicontohkan KWT Bunga Tanjung bisa menjadi contoh buat ibu-ibu lain yang belum memanfaatkan lahan pekarang rumah untuk bercocok tanam khususnya ibu-ibu yang ada di Desa Tabilaa.

“Bagi ibu-ibu yang ada di Desa Tabilaa mau memanfaatkan lahan pekarangan rumahnya untuk bercocok tanam sayur-sayuran atau rempah-rempah dan membutuhkan poly bag dan paranet bisa menghubungi saya, 75 poly bag dan paranet akan di berikan secara gratis yang mau memanfaatkan lahannya untuk bercocok tanam dengan jaminan poly bag dan paranet di gunakan untuk menanam sayur-sayuran atau rempah-rempah bukan bunga,” tutupnya. (2M)

Check Also

Jalankan Program Kapolri, Polres Bolsel Melaksanakan Aksi Penanaman 1300 Bibit Pohon Kayu

LiputanBMR.com – BOLSEL, Polres Bolsel yang melibatkan jajaran Polsek, Bhayangkari, Masyarakat dan Pemerintah Desa melakukan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *