Penulis : Pitres Sombowadile
Budayawan
NAMA ‘Sumartini Silagondo Triastuti Soepredjo’ jelas asing bagi kebanyakan orang di wilayah Bolaang Mongondow Raya (BMR). Tetapi, nama ‘Yasti Soepredjo’ dikenal di kalangan BMR kini. Padahal dua nama ini hakikinya menunjuk pada satu pribadi yang sama saja. Nama ‘Yasti Soepredjo’dengan sangat cepat menerobos dan bersemayam dalam ingatan para penggandrung-nya. Bukan saja di BMR, tetapi di seantero Sulawesi Utara. Tepatnya fenomena ini terjadi sejak pemilu 2009.
Menjelang Pemilu 2009 itu, Ismael Dahab, seorang konsultan politik, telah mengusulkan pentingnya sebuah nama berciri kultural Bolaang Mongondow disandang Yasti. Mungkin Dahab merasa nama ‘Silagondo’ pada nama aslinya belum cukup kadar menjadi candra khas Bolmong. Alkisah akhirnya nama Sumartini atau Yasti itu kemudian bermetamorfosis menjadi: Yasti Soepredjo Mokoagouw.
Namun jangan mengira nama marga belakang itu sembarang atau serampang diembelkan padanya.Karena, sesungguhnya dalam diri Yasti nyata mengalir darah turunan trah raja Loloda Mokoagouw. Yasti mewarisinya dari garis ibunya. Raja besar yang dikenal bergelar Datu Binangkang ini adalah paduka Raja Bolaang nan legendaris. Sekaligus adalah Raja Manado terakhir. Begitu sekurangnya menurut David Henley, pengkaji sejarah Sulawesi Utara paling intens di Eropa kini.
Nama Yasti Soepredjo Mokoagouw (YSM) dengan cepat eksis di panggung politik. Ketenaran berhasil diraihnya hanya dalam satu masa mandat di DPR-RI. Yasti tidak sekadar menjadi ‘nanu’ politik nan gilang gemilang di Sulawesi Utara, tapi sontak diperhitungkan di jajaran politisi Senayan, di Jakarta. Yasti menjadi figur penting Partai Amanat Nasional (PAN) sejak 2004. Dia pun menduduki Ketua Komisi V DPR-RI. Komisi yang sangat ‘basah’, atau populer disebut komisi ‘mata air’. Lawannya adalah komisi ‘air mata’, yaitu komisi-komisi yang kurang bertabur dana. Yasti adalah sosok penentu dana dan anggaran proyek fisik, infrastruktur dan bidang konstruksi di Indonesia Raya kita ini.
Dengan posisinya itu, Yasti melakukan lompatan besar status ekonomi dan sosiologis, dari posisi sekadar sebagai kontraktor proyek-proyek pemerintah di Manado. Kini dia didengar menteri dan para dirjen di beberapa kementrian mitra Komisi V. Dia bahkan punya akses lancar ke Sekretariat Negara saat masih dikelola mentornya, Ir. Hatta Radjasa. Banyak proyek berada dalam ‘kuasanya’.
Di Manado, apalagi Kotamobagu dan Bolaang Mongondow, Yasti meroket sebagai ikon politik. Tak sedikit proyek di desa-desa Bolmong merupakan hasil lobinya, di antaranya perbaikan kampung dengan ribuan ‘paving’.
Pendeknya, Yasti demikian berpengaruh, sekaligus dikagumi. Tentu catatan miring atas figur ini bukan tidak ada. Saya pernah membicarakan sisi-sisi suram itu, tetapi kini sisi-sisi cerlangnya saya soroti semadyanya. Bukan dalam rangka menjilat mencari recehan yang diibaratkan sebagai perangai reptil oleh Taufik Pasiak dengan mengacu pada kajian ‘kesadaran politik’ George Lakoff.
Sayang kemudian terjadi perputaran politik di lingkungan PAN pasca pilpres 2014. Yasti lantas berada di lingkaran agak luar dari partai besutan Dr. Amien Rais ini. Ini jelas kejadian yang jamak pada banyak politisi. Politik memang menghadirkan putaran roda gila. Kadang seseorang bertengger di atas, namun dalam sekejap melorot. Para politisi yang tangguh biasanya akan menunggu datangnya angin baru untuk ‘berlayar’ naik kembali ke puncak pentas.
Dalam putaran roda politik terbaru kini Yasti berupaya hendak berlabuh di panggung politik lokal Bolaang Mongondow. Dia secara resmi sudah mencalonkan diri dalam perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bolmong 2017. Dalam perhelatan ini, tentu segala keunggulan jelas dimilikinya, yang serta merta akan menggetarkan nyali siapapun lawannya.
Sebagai calon bupati, Yasti adalah pejabat publik pusat dengan citra bagus, meski bukan sempurna. Bukan malaikat. Tapi dalam rangka perhelatan pilkada Bolmong jelas Yasti punya dukungan kuat di tingkat pemilih yang sudah teruji. Dukungan itu telah membuatnya dua kali terutus ke DPR-RI. Para pendukungnya juga terbagi dalam banyak jaringan dan kalangan.Yasti pun punya kelompok militan yang merasakan dampak dari kekuasaannya. Mereka tentu akan bersedia menjadi tim pemenangannya.
Yasti juga punya jaringan keluarga di Bolmong yang membangun hubungan emosional yang kuat dengannya. Demikian pula, Yasti punya barisan intelektual yang bisa dengan kreatif merumuskan strategi pemenangan yang tepat baginya.
Selanjutnya, Yasti juga berkarib dengan para penguasa koran, serta para aktivis media yang terus menyokongnya. Yasti punya lobi birokrasi yang sewaktu-waktu akan menyokongnya untuk meraih kekuasaan dan memerintah di Bolmong. Bahkan, Yasti bisa mendapatkan bonus dukungan birokrasi yang dapat dikerahkan sohibnya, Walikota Kotamobagu, Tatong Bara. Pasalnya, 90% pegawai Kabupaten Bolaang Mongondow memang adalah penduduk Kota Kotamobagu.
Lebih lanjut lagi, Yasti punya dukungan partai-partai yang sangat kuat. Pengusung Yasti dalam pilkada Bolmong adalah partai penguasa, PDI Perjuangan, dan masih juga didukung deretan empat partai besar. Sebenarnya, keempat partai itu dapat saja berkoalisi mengusung calon lain, namun mereka sudah membangun dukungan untuk Yasti. Yasti pun akan bertarung bersama calon wakil bupati Yanni R. Tuuk yang tercatat sebagai calon wakil bupati terkuat kini.
Akhirnya, Yasti terkenal punya sumberdaya logistik. Dia punya kekuatan finansial sendiri dan dukungan berbagai mitranya selama ini. Soal dana, Yasti punya dalam jumlah melimpah. Tak heran karena itu, dalam banyak strategi pemenangan calon yang disokong Yasti, Ismael Dahab, menumpukan strategi pada kekuatan logistik.
Pendeknya semua faktor-faktor penentu kemenangan (citra baik calon, tim yang kuat, perbanyakan jaringan, strategi yang tepat, penggalangan dukungan pemilih yang efektif dan dukungan memadai logistik yang ‘liquid’) dimiliki Yasti. Pertanyaan akhir saya, sebelum kemenangan benar-benar diraih Yasti, adalah: ‘Apakah memang kemujuran dimiliki oleh Yasti Soepredjo Mokoagouw?’ Untuk menjawab soal ini, penting kita membahas calon pesaing dan lawan Yasti.
Kini lawan Yasti-Yanni (YaYa) memang hanya satu pasangan saja, yaitu pasangan Salihi Bua Mokodongan (SBM) dan Jeffry Tumelap ST, MT. Secara khusus yang mesti akurat dikalkulasi kekuatannya adalah Salihi. Dia adalah calon petahana yang baru saja menyelesaikan masa pemerintahannya di Kabupaten Bolmong bersama Yanni R. Tuuk (2011-2016). Dalam rilis survei yang digaungkan beberapa media Salihi mempunyai capaian survei yang lebih tinggi dibanding Yasti. Sedang, hasil survei dari pasangan YaYa belum juga dirilis sejauh ini.
Tetapi bagi saya yang paling sulit dilawan dari Salihi adalah kemujurannya. Capaiannya dalam politik sungguh sangat bertabur nasib mujur. Itu mesti disebut demikian, karena betapa jauhnya kesan meyakinkan Salihi untuk menang dibanding dengan Aditya Anugrah Moha dan Limi Mokodompit pada pilkada Bolmong tahun 2011. Kala itu, Salihi merupakan calon PAN, alias identik dengan calon Yasti. Namun dengan strategi yang sekadar bertumpu pada logistik akhir, Salihi toh bisa keluar sebagai pemenang. Padahal, kala itu Salihi kalah jauh citra, kekuatan tim, perbanyakan jaringan pendukung dan penggalangan tim.
Bagi saya ketika itu, Salihi dibela oleh kemujuran. Memang dengan memeriksa detil hidupnya, betapa banyak misteri keberuntungan dan kemujurannya. Kemujurannya yang paling akhir adalah bagaimana dia bisa mendapatkan dukungan dari tiga partai yang kini mengusungnya.
Situasinya, belum lama ini semua partai sudah potensial akan mendukung Yasti, dan konsep awal pemenangan Yasti dengan strategi ‘calon tunggal’ nyaris terwujud. Partai-partai potensial sudah ‘diikat’ dan segera merapat ketika membaca fenomena calon tunggal itu berpeluang terbangun.
Tetapi dalam situasi hampir kehilangan kendaraan itu, Salihi bisa memperoleh kendaraan. Salihi mengalahkan para calon lain yang sering menepuk dada sebagai yang lebih berpendidikan, lebih berpengalaman, lebih lihai, lebih mampu melobi, dan lebih banyak dukungan pendanaan. Jelas di sini, Salihi tebukti punya kemujuran tertentu dalam situasi sulit.
Pada pilkada Bolmong kini, dibanding Yasti, Salihi jelas kalah dalam segala ukuran dan kriteria calon. Salihi pun punya banyak catatan suram pemerintahan periode pertama. Tetapi, justru satu hal yang saya takutkan bahwa nasib baik, garis tangan dan kemujuran akan menjadi determinan. Orang boleh saja menyebut saya masuk pada kelompok irrasional, tetapi kemujuran adalah faktual pada banyak orang. Saya cenderung menyebut cara berpikir dengan memperhitungkan aspek-aspek yang tidak terhitung itu sebagai kesadaran supra-rasional.
Saya tahu bahwa cara berpikir rasional ala ‘winning election’ dari Barat toh tetap punya sisi-sisi misterius, baik yang ada pada pihak calon, pada pihak pemilih dan pada pihak tim pemenangan. Misalnya, soal tidak pastinya, ‘Kenapa calon tertentu disukai pemilih? Karena itulah, saya takut kemujuran atau sebaliknya kesialan mengalir dari faktor-faktor nan misterius itu.
Saya pun masih terkagum-kagum kini, bagaimana mungkin para politis handal semacam Marlina Moha Siahaan, Aditya Didi Moha, dan Sehan Landjar dan para tokoh politisi kawakan lain kini bisa berdiri bersama membela Salihi, padahal beberapa waktu lalu mereka tidak mengapresiasi semadyanya pada Salihi. Bagi saya ini misterius, sekaligus merupakan kemujuran Salihi.
Sudah jelas dari bahasan saya di atas, di atas kertas Yasti adalah calon yang jauh lebih unggul dibanding Salihi, tetapi saya pun harus berbijaksana bahwa keunggulannya kadang tidak cukup kuat untuk melawan kemujuran. Bagi saya pilkada Bolmong 2017 adalah perjuangan Yasti melawan mujur. Kita lihat saja siapa yang akan mengatakan ‘hampir menang’ dan siapa juga yang akan mengatakan ‘nyaris kalah’.
LIPUTAN BMR | Keseimbangan Informasi Liputan Berita MasRakat
