Soal Kisruh di Tanoyan Selatan, Ini Penjelasan Tokoh Masyarakat Setempat

LIPUTANBMR.COM, LOLAYAN
Salah satu tokoh masyarakat (Tomas) Desa Tanoyan Selatan Wiwin Ansi angkat bicara soal kekisruhan yang sempat terjadi di wilayah mereka, sehingga mengakibatkan salah seorang warga Desa Tungoi meninggal dunia.

Dari penjelasan Wiwin, belum adanya penetapan tapal batas antara Desa Tanoyan Selatan dan Desa Tapa Aog, Kecamatan Lolayan di wilayah pertambangan Potolo, menimbulkan keresahan antara warga yang beraktivitas di sana.

Adapun kata Wiwin, awal kejadian dari kekisruhan pada tanggal 24 Desember 2021 tersebut, adalah pemberitahuan warga tanoyan melalu portal jalan kepada penambang yang akan beraktivitas di wilayah pertambangan emas Potolo. Dimana kata dia, diketahui kalau hal itu dilakukan sebagaimana imbauan dari pemerintah desa Tanoyan Selatan.

“Portal jalan yang dilakukan masyarakat Tanoyan di dasari dengan imbauan dari pemerintah desa setempat pada tanggal 23 Desember 2021. Imbauan itu dikeluarkan pemerintah desa Tanoyan Selatan, sesuai dengan hasil rapat antara Camat Lolayan dan empat Desa yang berkaitan, bersepakat untuk pemberhentian aktivitas tambang di wilayah Potolo dihentikan sementara, sambil menunggu penetapan tapal batas oleh Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow. Namun hasil dari kesepakatan tersebut kemungkinan belum disampaikan oleh kedua sangadi, yaitu sangadi Tungoi 1 dan 2,” terangnya.

Menurutnya, hasil rapat yang disepakati di Kantor Camat antar 4 desa yang ada di Kecamatan Lolayan, ikut didukung juga oleh masyarakat setempat. “Masyarakat juga bersepakat menghentikan aktivitas tambang di wilayah Potolo untuk meredam ketegangan antara warga penambang, terlebih khusus Desa Tanoyan Selatan dan Desa Tungoi, yang sebelumnya sempat bersitegang di lokasi pertambangan tersebut,” ujarnya.

Lebih lanjut Wiwin mengungkapkan, usai sholat Jumat pada tanggal 24 Desember 2021, pemberitahuan warga terkait pelarangan aktivitas penambangan di wilayah potolo berjalan sesuai dengan yang diharapkan.”Beberapa warga Desa Tungoi yang ingin melakukan aktivitas pertambangan di potolo, mengindahkan dan menerima pelarangan warga, serta memilih untuk kembali ke desanya,” tuturnya.

Benih kekisruhan masih kata Wiwin terjadi ketika sore hari, menjelang magrib. “Sore itu, menjelang magrib, upaya pemberitahuan warga Tanoyan Selatan terkait pelarangan aktivitas tambang potolo mulai  mendapat respon yang tidak baik dari warga Desa Tungoi yang tidak menerima adanya penghentian aktivitas. Beberapa warga disekitar tempat kejadian, menggambarkan secara umum bahwa, portal yang menjadi simbol pemberitahuan dan pemberhentian aktivitas sementara, dirusak menggunakan parang oleh sejumlah kelompok masyarakat yang diduga berasal dari Desa Tungoi yang tidak terima dengan pelarangan itu. Bahkan, beberapa fasilitas masyarakat berupa warung, depot bensin, yang ada di sekitar portal jalan, di rusak oleh masa, sehingga menimbulkan kemarahan oleh warga sekitar yang membuat situasi semakin tidak kondusif,” ungkap Wiwin.

Kondisi tersebut lanjutnya, dari keterangan beberapa warga yang berada di lokasi kejadian, masih bisa diredam oleh tokoh masyarakat, pihak TNI-Polri  dan sejumlah perangkat Desa Tanoyan Selatan yang ada di lokasi kejadian, sehingga sejumlah  warga Desa Tungoi memilih kembali  di perbatasan antara Desa Tungoi dan Tanoyan Selatan.

“Berjalan waktu warga Tanoyan Selatan pun semakin banyak yang berkumpul di sekitar portal jalan, tidak tahu kenapa ada dua orang warga Desa Tungoi datang menerobos di tengah kerumunan massa untuk meminta ketemu dengan Sangadi (Kepala Desa,red) Tanoyan Selatan, sambil membawa sajam. Beberapa warga sudah memberitahukan kepada kedua warga Desa Tungoi tersebut, untuk kembali ke desanya, namun penyampaian tersebut tidak diindahkan,” jelas Wiwin.

“Ditengah kerumunan warga, salah satu warga Desa Tungoi tersebut bersikeras untuk tetap ingin bertemu dengan sangadi Tanoyan Selatan, yang pada saat itu jauh dari kerumunan warga. Keadaan yang semakin panas mengakibatkan situasi yang tidak terkendali dan menimbulkan perkelahian antara salah satu warga Desa Tungoi yang telah ditinggalkan oleh temannya dengan massa yang berada di tempat kejadian. Dalam situasi itu salah satu warga Desa Tungoi tersebut melarikan diri dengan kondisi yang terluka dan berdarah. Selang beberapa waktu kemudian warga Desa Tanoyan dibantu oleh Aparat dari TNI-Polri dua kali melakukan pencarian, untuk mencari warga yang melarikan diri tersebut, dengan maksud untuk diselamatkan, namun tidak ditemukan. Nanti keesokan harinya Sabtu tanggal 25 Desember 2021dapat ditemukan dalam keadaan meninggal dunia,” sambungnya lagi.

Di akhir penjelasan wiwin menambahkan, selain Potolo, pertambangan di Tanoyan telah beraktivitas sejak tahun 1986. “Banyak penambang dari luar desa yang keluar masuk di wilayah kami dan aman-aman saja, pada dasarnya masyarakat sangat membuka diri siapa saja yang datang bertambang di Tanoyan, kejadian ini semoga menjadi pelajaran bersama untuk kita. untuk proses hukum kami menyerahkan penuh kepada yang berwajib,” tutupnya.(*)

Check Also

DPRD Bolmong Gelar RDP Permasalahan Sangadi Desa Otam

BOLMONG – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) lalui Komisi I menggelar Rapat Dengar …