Presiden-RI-Ke-2-Hi-Soeharto
Presiden-RI-Ke-2-Hi-Soeharto

Yusril: Pak Harto Pemimpin yang enggan mengorbankan rakyat demi kepentingan pribadi

LiputanBMR, Jakarta – Tokoh nasional Yusril Ihza Mahendra mengungkapkan bagaimana besarnya jiwa seorang HM.Soeharto saat mundur sebagai Presiden negeri ini. ” Pak Harto itu pemimpin besar. Beliau enggan mengorbankan rakyat untuk kepentingan pribadi dan melanggengkan kekuasaannya, walaupun itu bisa,” ungkap Yusril dalam program “Satu Jam Bersama Yusril Ihza Mahendra” di sebuah stasiun televisi Minggu Malam (7/2/2016).

Menurut Yusril bila saat itu Pak Harto ambisi dengan kekuasaan dan jabatan maka tentunya negeri ini tidak akan seperti ini. ” Apalagi kalau beliau bertindak seperti Bashir di Suriah, Husni Mubarak di Mesir, maka entah apa jadinya negeri ini. Walau bagaimana pun juga saat itu masih banyak kekuataan yang mendukung beliau. Namun dengan kebesaran jiwa beliau bersedia mundur maka suksesi pun berjalan mulus,” tutur Yusril.

Yusril juga menuturkan bagaimana seorang Bapak Pembangunan bisa tidak melanjutkan sebuah keputusan ketika argumentasi yang diberikan masuk akal dan tidak mengabaikan peraturan. ” Saya sering diajak Pak Mordiono ketemu beliau untuk suatu permasalahan. Dan ketika kita jelaskan bahwa apa yang akan dilakukan tidak bertentangan dengan peraturan, maka beliau pun ikut. Ini sebuah bukti bahwa beliau memang seorang pemimpin yang demokratis dan tidak otoriter. Semua kebijakan berdasarkan peraturan yang berlaku di negeri ini,” ujar pria yang menjadi konseptor naskah pidato Soeharto saat menjadi Presiden.

Cerita Yusril Mahendra semalam mengingatkan saya saat masa Pilpres yang lalu. Di sebuah Desa Transmigrasi saya berdialog dengan tetua desa tentang Pilpres dan kandidatnya. Dengan tegas Bapak Tua itu menyatakan bahwa Soeharto adalah Presiden dan Prabowo serta Jokowi adalah Calon Presiden.

” Pak Harto itu Presiden. Dan mareka itu (Prabowo dan Jokowi) adalah baru calon Presiden,’ ujar bapak tua itu.

Bapak tua itu menceritakan bagaimana ketika Pak Harto memimpin negeri ini, harga sandang dan pangan sangat terjangkau dan mudah didapat. Sementara situasi keamanan sangat damai dan tenteram. ” Bandingkan dengan era sekarang. Ada duit barang susah. Harga melonjak naik. Belum lagi dengan demo-demoan,” ungkapnya.

Teringat Pak Harto, teringat pula saat masih duduk di Kelas 3 SD. Saat itu sekitar tahun 80-an, harus pindah-pindah tempat belajar di sebuah sekolah baru di Kampung Pasiban , Kecamatan Toboali yang baru saja selesai dibangun. SD Inpres Nomor 8, tepatnya. SD Inpres adalah salah satu bentuk kebijakan Pak Harto saat memimpin negeri ini untuk meningkatkan kecerdasan masyarakat terutama di daerah-daerah. Pak Harto sangat percaya bahwa kemajuan suatu bangsa hanya akan didapatkan bila rakyatnya disiplin, pintar dan cerdas sehingga melahirkan generasi yang menguasai bidang ilmu masing-masing guna mengisi kemerdekaan dengan pembangunan merata di seluruh tanah air tercinta, Indonesia.

Sumber: MN

Komentar Facebook

Komentar

Klinik Utama Kasih Fatimah

About Rian Thalib

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib diisi *

*