001593900_1448288089-20151123-Kamp_Bucca2

Penjara AS yang ‘Lahirkan’ ISIS

LiputanBMR.com – Suatu hari di tahun 2004, seorang pria digiring masuk ke dalam Kamp Bucca, fasilitas tahanan yang dikelola militer Amerika Serikat di Basra, Irak selatan.

Ada ribuan tahanan di sana. Semuanya memakai jumpsuit berwarna-warni.

Tak ada yang menarik dari sosok pria itu. Namanya, Ibrahim Awad Ibrahim Ali al Badri, seorang penceramah kecil dengan jemaah segelintir, yang punya gelar doktor di bidang Studi Islam. Aparat AS menciduknya karena ikut mendirikan kelompok radikal yang disebut Jamaat Jaysh Ahl al Sunnah.

Namun 11 tahun berikutnya, ia muncul dengan nama baru, Abu Bakr al-Baghdadi. Kelompok ISIS mengangkatnya sebagai khalifah, yang diklaim sebagai pemimpin semua umat Islam di seluruh dunia.

Pada Jumat 4 Juli 2014 al-Baghdadi menampakkan diri di Masjid Agung Mosul, menyampaikan seruan sepanjang 20 menit. Ada jam bersepuh krom (chrome) yang bentuknya mirip-mirip arloji mewah melingkar di pergelangan tangannya. Yang bikin orang bertanya-tanya, Omega atau Rolex?

Apapun, Abu Bakr-al-Baghdadi yang dikenal pendiam dan karismatik kini menjadi orang paling dicari di muka Bumi. Dan organisasinya, ISIS menebar teror ke penjuru dunia.

Tak ada faktor tinggal yang menjadi pemicu mengapa ISIS bisa tumbuh sebegitu mematikan dan paling berhasil merekrut orang asing dalam sejarah.

Namun, para ahli yakin, Kamp Bucca memainkan peran penting dalam perkembangan kelompok ekstremis itu.

“Seperti sebuah inkubator,” kata peneliti Quillam Foundation Rachel Bryson, yang memiliki spesialisasi soal ISIS dan jihad, seperti dikutip dari News.com.au, Senin (23/11/2015).

029417700_1446804363-20151106-Pemimpin_ISIS2

Ia mengatakan, kamp luas itu seakan menjadi ‘universitas’ bagi para teroris, yang memungkinkan lebih dari 26.000 tahanan untuk membuat jejaring dan menyusun cetak biru dari organisasi yang kini dikenal sebagai ISIS.
“Mereka yang radikal menjadi ‘dosennya’ dan tahanan lain adalah mahasiswanya,” kata Bryson. “Seperti ISIS, tujuan mereka adalah membangun sebuah negara…Itu (Kamp Bucca) adalah tempat di mana ahli agama, ahli pendidikan, ahli militer, dan mereka yang menguasai berbagai bidang bisa bertemu dan merancang sesuatu.”

Tahanan di kamp di padang pasir tersebut adalah wakil dari berbagai latar belakang masyarakat. “Kamp tersebut menfasilitasinya, membuat visi tentang sebuah negara menguat.”

Al-Baghdadi adalah satu dari ratusan ribu orang yang ditahan di fasilitas penjara yang didirikan AS setelah invasi atas Irak. Meski eksistensinya tak terlalu dikenal.

Ketika kabar dari penjara Abu Ghraib mengemuka dan jadi berita utama media massa, peran Bucca sebagai tempat perkembangbiakkan radikalisme jenis baru yang lebih bahaya tak tersentuh radar.

Setidaknya 9 pemimpin senior ISIS pernah ditahan di sana, termasuk mereka yang ditugasi menyediakan senjata, militan asing, dan penyokong program untuk keluarga para ‘martir’. Demikian menurut organisasi penyedia jasa intelijen Soufan Group.

Haji Bark, bekas kolonel Irak di bawah pemerintahan Saddam Hussein pernah ditahan di sana pada 2006 hingga 2008. Ia diyakini berperan menyusun struktur organisasi ISIS dan ikut andil dalam kesuksesannya pada masa-masa awal.

Mayor Jenderal Doug Stone, menjadi salah satu pengelola fasilitas tahanan dan dipuji atas pendekatan barunya mengatakan, jika seseorang ingin membangun angkatan bersenjata, penjara adalah tempat yang tepat.

“Di sana kita memberi mereka perawatan kesehatan dan gigi, memberi makan, dan yang lebih penting, menjaga mereka tak terbunuh dalam pertempuran,” kata dia dalam buku yang ditulis Michael Weiss dan Hassan Hassan.

Seorang pemimpin ISIS kepada Guardian tahun 2014 mengatakan, Bucca menyediakan ‘lingkungan yang sempurna’ bagi para teroris untuk tinggal, duduk bersama, dan menyusun rencana.

Ia yang tak mau disebut namanya, minta dipanggil menggunakan julukannya saat gerilya:  Abu Ahmed.

“Kami sepakat untuk berkumpul sekeluarnya dari sana. Cara untuk saling berhubungan kembali sangat mudah. Kita mencatat rincian tahanan lain di karet celana boxer kami. Saat keluar, kami tinggal menghubungi mereka,” kata dia.

“Informasi orang yang bagiku penting kutulis di karet putih. Aku punya catatan nomor telepon mereka, nama desa.”

Itu cara yang sederhana, namun efektif. “Boxer membantu kami memenangkan perang.”

Abu Ahmed mengatakan, selama di dalam tahanan, Abu Bakr-al Baghdadi membangun jaringan teror, dengan memanfaatkan kedekatannya dengan petinggi AS.

“Aku punya perasaan, ia menyembunyikan sesuatu, kegelapan yang tak ingin ditunjukkan ke orang lain. Dia kebalikan dari pemimpin lain yang susah diurus,” kata dia.

Al Baghdadi, kata dia, juga mendapatkan simpati dari para pejabat AS di penjara. “Jika ingin mengunjungi tahanan lain di kamp berbeda, ia bisa melakukannya. Padahal mustahil hal itu kami lakukan,” kata dia.

Menurut Ahmed, strategi baru Al Baghdadi mendirikan ISIS diciptakan di bawah pengawasan pihak AS. “Seandainya tak ada penjara AS di Irak, ISIS tak bakal ada. Kamp Bucca adalah pabrik. Yang mencetak kami. Di mana ideologi kami tumbuh.”

Saat Mayor Jenderal Doug Stone datang ke penjara, menerapkan strategi baru yang mendobrak, dan memperkenalkan pemuka agama yang moderat, langkahnya sudah telat.

Kamp tahanan menciptakan radikalisasi dan mengenalkan nilai-nilai itu untuk mereka yang awalnya masih polos.

“Misalnya di Kamp Bucca, dedengkot paling radikal tinggal bersisian dengan mereka yang sebenarnya tak dianggap terlalu mengancam. Beberapa bahkan tak terbukti bersalah melakukan tindakan kriminal. Penjara campur itu menjadi pusat rekruitmen dan pelatihan bagi para teroris yang kini berusaha ditumpas AS,” tulis veteran militer Andrew Thompson dan  Jeremi Suri di New York Times.

Kamp Bucca kini telah tiada. Ditutup pada 2009. Sebuah hotel yang dikelola Kufan Group didirikan di bekas bangunannya — yang mengincar para pekerja migas di Irak sebagai tamu.

Abu Ahmed mengatakan, saat AS mengalihkan kekuasaan pada Pemerintah Irak, ISIS telah membebaskan para tahanan paling radikal dalam kerusuhan yang mereka picu pertengahan tahun lalu.

Peneliti Rachel Bryson berpendapat, meski tak adil menyalahkan AS sebagai penyebab ISIS, namun penjara terbukti sebagai tempat radikalisasi tumbuh subur.

“Seperti yang terjadi saat ini, penjara adalah tempat di mana radikalisasi bisa terjadi. Penting bagi kita untuk mengelolanya dengan sebaiknya dan memiliki visi yang lebih baik.”

 

 

 

Editor       : Redaksi LBc

Sumber    : Liputan6

 

 

Komentar Facebook

Komentar

Klinik Utama Kasih Fatimah

About Windiarto

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib diisi *

*